Rabu, 10 Juli 2019

Salah Tuduh


Dalam usahanya yang semakin naik daun, Pak Tora berencana untuk membuka usaha lagi. Ia sudah membeli sebuah kios di pasar yang ukurannya cukup luas. Usahanya sebagai penjual sembako sukses membawa dirinya menjadi pengusaha kaya raya. Untuk kelanjutan usahanya, Pak Tora akan membuka bisnis gerabah atau perlengkapan rumah tangga. Karena menurutnya saat ini semakin banyak orang membuat usaha properti berupa perumahan dan pasti sang penghuni akan mencari perlengkapan untuk mengisi rumah barunya. Pak Tora pun semakin yakin ketika sang istri setuju dan mensupport dirinya untuk membuka bisnis barunya itu.

Beberapa bulan setelahnya toko gerabah milik Pak Tora sudah resmi dibuka. Kini, ia harus berbagi tugas dengan Bu Piah, istrinya. Pak Tora akan memegang toko gerabah dan Bu Piah tetap memegang usaha sembakonya. Mereka berdua berharap usahanya kini akan selalu berjalan dengan lancar dan berkah. Ketiga anaknya yang masih bersekolah harus fokus kepada sekolahnya dan kadang juga membantu berjualan di pasar jika libur sekolah.Semakin lama usaha Pak Tora semakin ramai pembeli. Toko milik Pak Tora sudah terkenal dimana-mana. Banyak orang dari jauh sengaja datang ke toko Pak Tora karena kualitas barang dan harganya tidak mengecewakan para pembeli. Begitu pula dengan usaha sembako yang semakin lengkap.

Pak Tora dan Bu Piah tidak pernah saling ikut campur urusan toko. Mereka fokus pada masing-masing toko dan terus berusaha untuk mensukseskan bisnisnya. Pada posisinya yang sedang di atas itu, Pak Tora memilih menginvestasikan uangnya lagi dengan membuka toko gerabah lagi. Toko itu akan dipegang oleh adik Pak Tora yang kebetulan baru saja resign dari kerjaannya. Pak Tora ingin adiknya juga bisa menjadi sukses seperti dirinya. Tapi, saat ini usia Pak Tora semakin tua dan ia semakin lelah untuk bekerja terlalu lama. Akhirnya toko yang satunya juga ditanggung jawabkan kepada tetangga Pak Tora, yakni Pak Mamad yang merupakan guru mengajinya.

Pak Tora percaya penuh dengan Pak Mamad karena menurutnya Pak Mamad adalah orang yang jujur dan mengerti agama. Pak Mamad akan mendapatkan persenan dari penghasilan toko.Setelah dipegang oleh Pak Mamad, Toko Pak Tora memang semakin ramai. Terlebih karena Pak Mamad adalah orang yang ramah sekali dengan pelanggan. Persenan yang didapatkan oleh Pak Mamad pun semakin banyak sehingga Pak Mamad bisa memperbaiki rumahnya yang sudah tua itu menjadi rumah yang lebih layak ditinggali. Pak Tora melihat kemajuan yang dialami oleh Pak Mamad, namun tidak dengan adiknya. Akhirnya Pak Tora menuduh bahwa Pak Mamad telah melakukan kecurangan.Ia menganggap Pak Mamad mengambil keuntungan yang lebih besar karena banyak pelanggan yang komplain dengan harga di toko Pak Tora.

Pak Mamad pun diberhentikan dari pekerjaannya.Usai diberhentikan, ternyata toko Pak Tora malah semakin sepi pelangan. Setelah diperiksa, akhirnya terungkap bahwa yang menaikkan keuntungan lebih adalah adiknya sendiri. Di toko yang diberikan Pak Tora kepada adiknya, sang adik sengaja menaikkan keuntungan uang yang di dapat bisa lebih banyak. Pak Tora sangat kecewa dengan sang adik. Akhirnya Toko yang dipedang oleh sang adik diberikan lagi kepada Pak Mamad. Kini, Pak Tora harus memegang satu tokonya lagi dan yang satu kembali dipegang oleh Pak Mamad. Bisnis Pak Tora pun kembali stabil seperti semula dan Pak Tora semakin banyak membuka lowongan pekerja untuk orang-orang yang membutuhkan. Sementara adik Pak Tora adalah salah satu karyawan yang kini hanya menjadi kuli angkat gerabah yang dipesan oleh pelanggan.

Sang Nenek dan Revolusi Toko Rotinya


Setiap kali mendatangi toko roti di seberang jalan depan alun-alun kota, aku kerap mendapati seorang nenek yang duduk dengan tenang di samping seorang kasir. Beliau duduk pada kursi rodanya. Aku selalu mengira bahwa nenek tersebut adalah pemilik toko roti itu. Saking lamanya duduk di tempat itu, sang nenek sampai jeli jika terdapat rak roti yang kosong, beliau segera memanggil karyawan untuk mengisinya lagi dan merapihkan rak tersebut. Roti di toko itu memang terkenal enak, rasanya berbeda dengan roti-roti yang lain. Bahkan roti-roti yang ada di toko itu jauh lebih enak dibanding dengan roti yang aku beli di mall-mall tempat biasa aku berkumpul dengan teman-teman. Seringkali setiap melewati jalan ini atau jika sedang mengunjungi alun-alun, aku menyempatkan untuk membeli roti itu barang satu atau dua.

Dan yang lebih membuat aku tertarik datang kesana adalah gaya bangunan tokonya yang mirip dengan bangunan-bangunan orang inggris. Pelayananya juga mengenakan baju-baju ala wanita pekerja di inggris. Mereka memakai baju terusan dan bertopi. Musik yang diputar pun selalu musik klasik khas bangsa inggris. Ingin sekali aku berbincang barang sebentar dengan nenek itu, namun beliau selalu terlihat sibuk mencari-cari rak roti yang kosong dan memanggil-manggil pelayan untuk mengisinya lagi. Jadi, selalu aku tunda saja untuk berkenalan dengan sang nenek.

Terakhir kali aku membeli roti itu sudah sekitar dua minggu yang lalu. Aku pergi ke luar kota untuk melakukan perjalanan dinas. Tapi, setelah sepekan berlalu dan dua kali aku mengunjungi toko roti itu, sang nenek tidak aku temukan, begitu juga dengan kursi rodanya. Karena sangat penasaran, maka bertanyalah aku kepada seorang gadis cantik yang setia menjadi kasir di toko itu. Katanya, sang nenek sedang dirawat di rumah sakit. Seketika itu aku terkejut dan spontan saja bertanya penyakit apa yang diderita oleh sang nenek. Si gadis kasir yang cantik itu memberitahuku bahwa nenek menderita gagal ginjal. Saat ini, beliau sedang dioperasi. Aku hanya bisa turut bersedih dan mendoakan semoga nenek lekas diberi kesembuhan.

Beberapa minggu kemudian, aku kembali melewati jalan depan alun-alun. Di dalam mobil bersama teman-teman yang lain, aku cepat bersiap-siap untuk melihat ke arah toko itu. Tidak hanya sang nenek yang tidak berada di dalamnya, roti dan gadis-gadis muda yang menjadi pelayannya tidak terlihat. Dari depan jalan terlihat kaya “tutup” tergantung pada pintu toko. Biasanya, meskipun tutup, roti-roti itu masih ada dan terlihat berjejer di rak. Tapi, sekarang tidak ada sama sekali. Semua rak tampak bersih tanpa roti satupun. Beberapa minggu setelahnya, baru aku sadari bahwa toko roti itu sudah tutup dan tidak berjualan lagi. Aku yakin pasti sang nenek sudah meninggal, maka dari itu tidak ada lagi yang meneruskan usaha rotinya.

Aku pun menyesal, bukan karena tidak akan makan roti enak itu lagi, namun karena saat itu belum sempat berkenalan dengan sang nenek. Ah, sudahlah, mungkin memang tidak takdirku.Seperti minggu-minggu biasanya, setiap akhir pekan, aku dan teman-teman memanjakan diri untuk sekedar menonton film di bioskop dalam mall. Aku dan teman-teman berjalan dengan ramai membicarakan film yang nanti akan kami tonton. Tiba-tiba sekilah aku melihat walpaper yang biasa aku lihat di toko roti nenek itu. Sejenak aku berhenti dan menarik salah satu lengan temanku. Aku tarik dia untuk menemanik’u kesana. Dan benar, toko itu adalah toko roti milik nenek. Semua jenis rotinya sama, rasanya juga sama. Karena tak sabar dan penasaran akhirnya aku bertanya pada gadis cantik yang menjaga kasir yang ternyata masih sama seperti yang ada di toko.

Kak, toko rotinya baru ya? atau memang pindah kesini? Pindah kak, malah justru lebih banyak buka cabang dimana-mana Wah, oh iya, apa kabar nenek? Nenek sudah dibawa oleh anak-anaknya kak. Beliau tidak tinggal disini lagi Lalu siapa yang meneruskan usaha ini? Tetap milik nenek, tapi dijalankan oleh anaknya yang paling kecil kak Oh seperti itu. Memangnya kenapa kok toko yang disana tutup?” tanyaku lagi karena penasaran Anaknya nenek tidak ingin usahanya hanya disitu dan satu saja kak. Ia ingin memproduksi roti lebih banyak agar bisa dikonsumsi oleh banyak orang juga. Ia juga yang memodali semuanya kak” seperti itu jelasnya Oh, yasudah, semoga nenek cepat sembuh ya, salam untuk beliau Baik kak, terimakasih dan selamat datang kembali Aku pun kembali berkumpul dengan teman-temanku. Dalam hatiku berkata, wah jika toko roti ini akan dibuka di mall-mall, maka akan semakin mudah aku untuk membelinya meskipun jika nanti aku harus berpindah kota untuk mengikuti suamiku.

Pulang Malu Tak Pulang Rindu


Berangkat dari kisah hidupnya yang begitu mlarat. Hari, laki-laki berbadan sedang dan tidak terlalu tinggi dengan tubuhnya yang kurus, ia memberanikan diri untuk berangkat ke kota J demi menjemput sebuah pekerjaan sebagai kewajibannya menjadi suami dan ayah bagi dua orang anak perempuannya. Langkah kakinya kian mantap dan pandangannya pun tegas dan jelas bahwa dirinya sudah sangat yakin bahwa pilihannya akan bisa merubah nasib keluarga kecilnya. Bus jurusan kota J sudah tiba, dengan tidak menampakkan wajah sedihnya, ia bersalaman dengan sang istri dan kedua putrinya yang mengantarnya hingga ke terminal. Dengan yakin Heri mengangkat tas dan masuk ke dalam bus tersebut.

Pandangannya tak pernah lepas dari tiga orang di luar yang melambai-lambaikan tangannya menyimbolkan arti selamat jalan untuknya. Heri semakin sedih, namun apa boleh buat karena jika terus berdiam diri di rumah sementara sang istri yang bekerja, ia akan selalu menjadi bahan omongan orang-orang di sekitarnya.Bus mulai melaju dan meninggalkan terminal yang ramai. Bus mulai menyusuri jalan raya melewati desa-desa yang kerap Heri lalui setiap hari. Ia hanya diam termenung sambil meyakinkan hatinya berulang kali bahwa pilihannya adalah yang paling tepat. Menjadi seorang laki-laki haruslah bekerja karena bekerja adalah harga diri seorang laki-laki.

Di dalam bus, Heri pun terus mengingat betapa tak berharga dirinya di hadapan keluarga besar sang istri. Sudah menumpang dan belum memiliki pekerjaan juga. Tak jarang dirinya menjadi bahan omongan dan tak jarang juga dirinya tak mendapat sapaan dari keluarga sang istri. Rasa sakit hatinya hanya bisa dipendam sembari terus mencari pekerjaan. Dan akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu itu pun tiba, ia mendapatkan panggilan kerja menjadi seorang supir pribadi. Tanpa banyak berpikir lagi, Heri segera meminta izin dengan sang istri untuk berangkat. Sang istri yang juga merasakan bagaimana perasaan sang suami pun mengizinkan dan berjanji akan selalu menunggu dan mendoakan sang suami agar selalu dimudahkan setiap langkahnya.

Sesampainya di kota J, Heri mencari rumah majikan yang dituju. Karena belum pernah sama sekali mengunjungi kota tersebut, maka beberapa kesulitan pun menghampirinya. Mulai dari bertanya kepada orang-orang di sekitar, mencari angkutan yang searah, belum juga bertemu dengan tukang ojek yang sukanya menaikkan harga ketika tahu bahwa penumpangnya adalah orang jauh. Tapi, semangat Heri untuk membahagiakan istri dan anaknya tidaklah patah. Ia tetap terus berjuang dan yakin akan usahanya.Setelah beberapa hari bekerja, Heri merasa bahwa hidup di perantauan jauh lebih menyenangkan.

Ia merasa lebih tenang karena tidak bertemu dengan orang-orang yang sering mengatai dirinya pengangguran, tidak bertemu dengan keluarga yang kerap acuh dengannya. Istri dan anaknya pun semakin perhatian walaupun dengan jarak yang jauh. Ia merasa lebih fokus dalam bekerja karena jauh dengan orang-orang yang tidak menyukai dirinya dan bertemu dengan banyak orang baru yang memberikan banyak inspirasi baru. Satu bulan berlalu, Heri sudah mendapatkan gaji dan mengirimkannya kepada istri untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya di desa. Selain menjadi supir pribadi dan memiliki banyak kenalan baru, ia juga mencari pekerjaan sampingan.

Rezeki yang dihasilkan semakin banyak, namun uang yang diberikan kepada keluarga di rumah tetap sama. Perhatiannya kepada keluarga pun semakin hari semakin berkurang. Heri semakin nyaman dengan teman-teman barunya. Suatu hari, sahabat baru Heri, Opik, datang menghampirinya. Tiba-tiba saja Heri merasa Opik jauh lebih bersahabat. Sambil berjabat tangan, Opik membisikinya sesuatu,Ada mainan sekaligus kerjaan baru bang” kata Opik dengan suara lirih, Apa pi Judi bang Apa? Dosa itu pik! Halah, kalau menang kan lumayan bang bisa buat tambah-tambah pendapatan Karena mendengar bisa menambah pendapatan, Heri langsung saja mengiyakan tawaran Opik. Satu, dua, tiga kali Heri menang dalam berjudi.

Pendapatanya semakin banyak, hal itu membuatnya semakin semangat lagi bermain judi. Ia bermain judi dari malam hingga pagi hari. Akhirnya pekerjaan utamanya sebagai supir pribadi pun terbengkalai dan sang majikan memecatnya.Heri terus dan masih saja bergelut dengan aktivitas judinya. Semua uang yang ditabungnya ia pakai semua untuk modal berjudi. Berulang kali kawannya yang lain mengingatkan dirinya, namun rasa kecanduan sudah hinggap pada dirinya. Kini, Heri kembali menjadi seorang pengangguran yang tak bermoral. Ia ingat lagi dengan keluarganya. Ingin pulang malu, tak pulang rindu.

Pekerja Domestik


Namaku Rima. Aku adalah anak pertama dan terakhir di dalam keluarga. Menjadi anak perempuan satu-satunya membuat kedua orang tuaku sangat over protective terhadapku. Mereka kerap kali cemas jika aku pergi terlalu lama. Maka dari itu, aku tidak bisa menjadi seperti teman-teman yang bisa menuntut ilmu di kota yang jauh atau pergi merantau untuk bekerja di luar kota. Ibuku meminta agar aku sekolah di dekat-dekat rumah saja dan ayahku melarangku untuk mencari kerja yang jauh. Ya itulah aku.Aku sudah lulus kuliah dan sudah berhenti bekerja. Ya, aku sudah tidak bekerja. Kini, aku hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Suamiku melarangku untuk mengajar lagi di paud dengan alasan jika aku bekerja, aku harus berangkat pagi sekali dan kadang di jam pulang harus ikut rapat dengan guru-guru di sekolah.

Suamiku mengeluh jika hidupnya seperti tidak terurus. Maka dari itu ia memintaku agar diam saja di rumah dan mengurus pekerjaan rumah. Ia juga berjanji bahwa apa saja yang aku inginkan akan ia penuhi asalkan aku tidak usah bekerja.Aku sudah biasa menuruti kehendak orang tua, maka dari itu aku menjadi seorang perempuan yang penurut. Terlebih pada suamiku. Ia yang kini bertanggung jawab atas diriku dan kebutuhanku. Orang lain selalu memandang bahwa hidupku serba menyenangkan. Aku hanya diam di rumah dan tetap mendapatkan uang dari suamiku. Katanya,Rima adalah wanita yang beruntung.

Aku memang beruntung, tapi aku tak seberuntung teman-temanku yang bisa bekerja dan memperoleh penghasilan sendiri. Aku merasa hidupku kini terbelenggu akan aturan-aturan yang dibuat oleh suamiku, sementara aku sebagai seorang istri yang hanya menggantungkan hidup padanya, mau tidak mau harus menurut. Semua itu juga demi anakku. Pekerjaanku tidak lain adalah mencuci baju, mencuci piring, membersihkan rumah, mengurus anak, dan mengurus suamiku.Tiba-tiba ada seorang wanita berkunjung ke rumah ketika aku seorang diri. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Wanita itu mengetuk pintu rumah beberapa kali.

Dari balik kaca aku lihat lebih cermat siapakah gerangan wanita tersebut. Namun tetap saja aku tak bisa mengenalinya. Dengan rasa penasaran aku bukakan pintu rumah dan bertanya siapa dia dan ada tujuan apa datang ke rumahku. Waalaikumsalam” jawabku setelah wanita itu melantunkan salamnya kepadaku. Permisi,apa benar ini rumah Ivan?” tanya wanita itu sembari memandangku. Ya, benar. Saya istrinya” jawabku. Boleh saya masuk mbak?” kata wanita itu dengan mengarahkan ibu jarinya ke arah ruang tamu.Seketika aku mempersilahkannya, “Oh mari silahkan. Ngomong-ngomong ada keperluan apa mbak.

Oh iya mbak, perkenalkan saya Setia, temannya Ivan. Saya bekerja di bank dekat sini. Kebetulan kemarin saya mau mencari orang untuk bekerja di tempat saya karena ada posisi kerjaan yang kosong. Nah, Ivan pernah cerita dulu istrinya pernah kuliah di jurusan perbankan. Maka dari itu saya mau kasih tau informasi sama mbak Aku sempat berfikir sejenak darimana wanita ini bisa tau alamat rumahku. Ah mungkin dari Ivan atau temannya yang lain gumamku, “Oh iya, tapi maaf sekali mbak saya juga repot di rumah ngurus suami dan anak. “Oh seperti itu, oh iya ini sekalian saya mau mengembalikan bolpoin Ivan yang jatuh kemarin waktu makan siang bareng mbak. Oh, iya mbak” jawabku dengan nada sedikit tidak enak.

Yasudah, saya pamit dulu. Nanti apabila berkenan mbak Rima bisa hubungi saya. Ivan punya nomor saya kok mbak. Iya mbak, terimakasih untuk informasinya. Wanita itu pun pergi dengan meninggalkan luka dan rasa curiga di hatiku. Aku khawatir jika suamiku di luar sana memang dekat dengan wanita lain termasuk wanita tadi. Aku memang pernah mendengar suamiku menelfon seseorang dan berkata, “Oh maaf istriku tidak boleh bekerja. Dia harus fokus dengan pekerjaannya di rumah.” Aku jadi takut apakah ketidakbolehannya padaku untuk bekerja hanya karena dirinya takut jika aku tau gerak gerik dirinya di luar sana? Tapi, apalah dayaku yang hanya menumpang hidup padanya. Aku tak tega mencurigainya. Ia sudah terlalu baik untukku.

Oh Gini Rasanya


Senin pagi yang cerah diiringi dengan suara tapak kaki orang-orang berjalan menuju pasar atau tempat bekerja lainnya dan suara langkah sepatu anak-anak berangkat ke sekolah membuat Pak Ino juga semangat menjalani aktivitasnya sebagai seorang pengrajin kandang ayam. Setelah mandi dan sarapan, ia mengeluarkan peralatannya seperti gergaji, palu, dan paku. Pak Ino tidak pergi kemana-mana, ia mengerjakan pekerjaannya di samping rumah, di pelataran yang cukup luas miliknya yang sengaja dikosongkan untuk keperluan dirinya jika mendapat pesanan kandang ayam.

Pak Ino sudah mulai menggergaji bambu-bambu yang sudah disiapkannya dari kemarin sore. Ia terlihat begitu serius dan menikmati setiap apa saja yang sedang dikerjakannya. Pikiriannya fokus kepada bambu yang sedang dipotongnya dan dibelah untuk kembali dirapihkan. Sesekali pandangannya beralih pada alat-alat yang hendak digunakannya.Dalam keseriusannya, tiba-tiba suara tangis anak kecil yang merupakan keponakannya mengambil alih perhatiannya. Pak Ino segera meletakan bambu dan peralatan yang dipegangnya. Tangisan itu terdengar semakin keras dari rumah sebelah yang adalah rumah adiknya. Pak Ino masih memperhatikan suara itu yang kemudian suaranya mendekat. Keponakannya keluar dari rumah dengan tangisannya.

Rupanya ia tidak diberi uang saku oleh ibunya oleh karena dirinya yang bandel. Pak Ino menghampirinya dan memberikan uang saku sebesar dua ribu rupiah. Keponakannya pun berhenti menangis dan segera berangkat ke sekolah sembari menunjukkan wajah manisnya kepada Pak Ino dan wajah Kecutnya kepada ibunya.Hari mulai siang dan Pak Ino sudah lelah dengan pekerjaannya. Bau masakan sang istri membuatnya seperti sebuah layangan yang ditarik oleh pemainnya. Pak Ino pun meninggalkan pekerjaannya dan masuk ke dalam rumah. Niat hati ingin cepat makan, namun ternyata kenyataan berkata lain. Sang istri diam cemberut hingga membuat dirinya bingung. Tak lama sang istri membuka pembicaraan.

Ngapain sih pak, pake ngasih-ngasih uang saku segala sama si Ahan?” begitulah tanya sang istri.  Ya ngga papa wong tadi dia ngga dikasih uang saku sama ibunya. Mungkin ibunya lagi ngga ada uang.” Wong kita juga butuh uang kok pak! itukan ibunya Ahan bisa kerja, wong bapaknya aja kerja masa nyanyiannya nggak punya uang terus. Heran aku! Pak Ino menghela nafasnya dan mencoba menenangkan hati istrinya, “Ngga apa-apa bu, selagi kita ada rezeki ya kita bagikan saja. Toh mungkin di dalam rezeki yang kita dapatkan tersimpan juga rezeki milik mereka. Kita kalau kenapa-kenapa juga pasti mereka dulu yang nolong kita. Hah, banyak alesannya. Kita juga nggak punya uang pak. Kita masih punya uang bu, kemarin kan anak perempuan kita baru aja ngasih uang. Lupa ya bu Nggak lupa, tapikan ditabung pak, buat lebaran.

Untuk lebaran nanti ada rezeki yang lain bu. Sang istri tetap saja diam dan cemberut. Selesai masak ia membiarkan Pak Ino makan sendirian di ruang makan. Ia pergi ke kamar mandi untuk mengambil cucian yang sudah direndam dengan pewangi sebelum memasak tadi. Ia berjalan menuju tempat jemur di depan rumah. Tiba-tiba dilihatnya ramai-ramai orang berkumpul. Karena penasaran, ia pun ikut berkumpul. Ternyata seorang tetangganya sedang membagi-bagikan bungkusan nasi kepada anak-anak sekolah yang melewati jalan itu. Tak lama kemudia, istri Pak Ino meminta satu kepada orang yang membagikan bungkusan nasi tersebut. Tapi permintaannya ditolak karena nasi yang dibagikan khusus untuk anak-anak yang berseragam sekolah.

Takutnya mereka, anak-anak itu ada yang belum makan atau belum sempat makan di rumah. Istri Pak Ino pun kembali kesal dan mengatai si pembagi nasi adalah orang yang pelit.Sesampainya di rumah, istri Pak Ino kembali membuka mulutnya Dasar, pelit banget, minta bagi satu aja nggak boleh Pak Ino yang sedari tadi mengintip dari jendela pun sudah tau bahwa istrinya kesal gara-gara tidak dibagi nasi. “Makannya bu, jangan jadi orang pelit. Toh kesal sendiri jika dipelitin sama orang lain. Istri Pak Ino pun kembali ke halaman rumah untuk menjemur baju dengan raut wajahnya yang kesal dan malu sambil menggumam dalam hati, “Oh gini rasanya.

Nasihat Untuk Bong Supit


Pagi hari, Bu Narsih berjalan bersama  petani wanita yang lain melewati pematang sawah. Mereka berjalan berurutan seperti barisan gerbong kereta yang melaju. Ketika seseorang paling depan berjalan agak menyerong mengikuti alur pematang sawah, yang lain pun mengikuti. Barisan ibu-ibu itu pulang membawa beberapa alat bertani dan rantang tempat makan yang kosong. Mereka semua meninggalkan suami yang masih bekerja di sawah. Merka pulang untuk melanjutkan tugas rumahnya masing-masing.Sampai di rumah, Bu Narsih melihat ke sekeliling rumah. Ia mengamati kiranya apa saja yang perlu dibenahinya. Di pelataran rumah terdapat dua pohon besar, yakni pohon rambutan dan pohon mangga.

Pohon yang hanya berbuah musiman itu kerap dan banyak sekali menjatuhkan daun-daunnya dan membuat pekerjaan baru bagi Bu Narsih. Selesai mencuci kakinya di pancuran banmu belakang rumah, ia mengambil sapu lidi dan mulai menyapu halaman. Dalam hatinya seringkali mengeluh karena daun-daun pohon yang selalu mengotori halaman, namun di sisi lain ia sangat bersyukur akan adanya kedua pohon tersebut. Keduanya membuat pelataran tidak terkena panas matahari di kala siang, sehingga membuat rumahnya tampak asri dibanding dengan halam rumah tetangga lain yang terang dan disemen penuh.

Usai menyapu, Bu Narsih mengumpulkan dedaunan itu dan dibakarnya. Tugasnya belum selesai sampai disitu. Di dalam rumah, Bu Narsih masih harus merapihkan dan menyapu, mencuci baju, dan memasak. Ia setia dengan pekerjaannya sebagai seorang istri meskipun pagi hari harus turut pergi ke sawah dan pulang ke rumah untuk merapihkan keadaan rumah.Tiba-tiba dari pintu samping rumahnya, datang seorang wanita. Ia adalah Bu Sarwi. Ia datang dengan tergopoh-gopoh dan raut wajah penuh kegelisahan. Ia mengetok pintu rumah Bu Narsih berulang kali dan membuat Bu Narsih yang sedang mencuci baju harus cepat-cepat membasuh tangannya dan membukakan pintu.

Bu Narsih, Bu...Bu Narsih.” Teriaknya dari luar Dengan cepat Bu Narsih membukakan pintu, Dalem, ada apa Bu Sarwi? Ada apa Reno Bu, Reno anakku dibawa oleh pemimpim pekerja Belanda itu” Ya Allah, kemana bu, dibawa kemana katanya Reno? Mau dibawa untuk dipekerjakan di kota. Tapi Reno masih kecil bu, dia masih harus sekolah.” jawab Bu Sarwi sembari menggegrek menangis. Sabar Bu, sabar. Kita bisa berbuat apa bu? memang seperti itulah ketentuannya jika sudah disunat. Semua ini salah suami saya bu, dia yang menginginkan Reno agar cepat besar dan bekerja. Padahal saya sendiri tidak ikhlas Bu, saya tidak ridho anak saya yang masih 10 tahun itu harus dibawa dan harus bekerja. Sudah, sudah...toh selama ini Reno pun tak mau bersekolah, jadi buat apa jika tidak disunat dan bekerja.

Bu Narsih pun mencoba menenangkan hati Bu Sarwi. Ia mengantar Bu Sarwi pulang ke rumahnya dengan keadaan Reno yang sudah dibawa oleh pekerja Belanda itu. Di desa itu memang sudah menjadi tradisi, bagi anak laki-laki yang sudah disunat maka dianggapnya sudah besar. Pernah waktu itu karena tidak ada satu-pun yang disunat, akhirnya para Belanda itu mendatangkan mantri untuk melakukan supit masal. Namun, tetap saja para penduduk mempercayakan anak-anaknya untuk di supit di tempat bong supit yang terkenal di desa tersebut. Karena merasa tidak nyaman dengan kejadian tadi. Sepulang suaminya dari sawah. Bu Narsih menceritakan semuanya kepada sang suami yang juga adalah seorang kepala desa.

Ia meminta agar sang suami berbicara baik-baik kepada bong supit untuk tidak menyupit anak-anak dibawah 10 tahun karena mereka harus sekolah dan belajar lebih banyak lagi. Akhirnya setelah melakukan perundingan yang cukup lama, Bong Supit menyetujui perintah dari kepala desa tersebut meskipun ia harus menanggung kasihan kepada warga yang ingin menyupit anaknya sebelum umur 10 tahun karena kekurangan biyaya untuk menyekolahkan anak dan memberinya kebutuhan hidup. Tapi bagaimana pun, semua ini memang demi kebaikan masyarakat itu sendiri agar lebih bekerja keras dan bisa menyekolahkan anak-anaknya agar menjadi manusia yang berguna, tidak hanya berhenti menjadi pembantu para Belanda itu.

Ngajak Duluan


Gadis itu terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya pelan sambil meregangkan badannya dan kembali memejamkan mata namun tak berniat untuk tidur kembali. Tiba-tiba matanya terbuka lebar dan menguap. Tidak segera bangun, ia malah berdiam diri. Dilihatnya jam di ponsel yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi. Gadis itu bangun dari pembaringannya dan segera menatap layar ponsel dengan lebih serius. Dilihatnya kontak pesan yang ternyata kosong. Gadis itu kembali merebahkan badannya dengan raut wajah seperti seseorang yang baru saja mengalami kekalahan.

Tiba-tiba gagang pintu kamarnya bergerak. Tak lama kemudian terdengar suara wanita memanggilnya. Tiiii, Muti...bangun nak udah siang” ternyata sang ibu membangunkannya.
Muti segera berdiri dan menguncir rambutnya yang ikal sembari menjawab panggilan sang ibu, “Ya bu, Muti udah bangun. Setelah menguncir rambutnya, Muti segera merapihkan tempat tidur lalu pergi ke kamar mandi. Ia melihat sekeliling sudah sepi, tinggal ibunya saja yang kelihatan sibuk memisah-misahkan baju dan pakaian dalam yang hendak direndam. Ayahnya sudah berangkat kerja dan kedua adiknya sudah pergi ke sekolah. Hanya ibu dan dirinya yang berada di rumah dan sama-sama merapihkan rumah.

Dua minggu ini, Muti berada di rumah. Ia baru saja keluar dari pekerjaannya karena habis kontrak. Sambil mencari pekerjaan yang lain, ia memilih untuk pulang ke rumah terlebih dahulu. Tidak menganggur sepenuhnya, ia masih menerima beberapa pesanan barang online shop dari konsumen.
Teman-temannya di rumah ternyata banyak yang sudah berkeluarga. Hal itu membuatnya kesepian dan iri. Setiap kali bertemu teman, dirinya selalu saja ditanyai kerja dimana atau kapan menikah. Hatinya semakin gelisah, namun sayangnya sampai saat ini dirinya belum juga mendapatkan pekerjaan lagi.

Ketika sedang membantu ibu mencuci piring, Muti kembali teringat akan pesan singkat di ponselnya. Ia belum juga mendapatkan balasan dari seseorang yang dimaksud. Kali ini bukan persoalan jualan, Muti baru saja mengajak seorang laki-laki yang baru saja dekat dengan dirinya untuk menikah.  Mereka sudah lama berkirim pesan dan akrab, namun baru sekali sekali saja bertemu. Entah apa yang membuatnya berani mengutarakan hal itu. Bahkan, Muti mengutarakan kepadanya agar tidak diberi mahar yang aneh dan tidak perlu juga menggelar acara pesta pernikahan. Ia meminta hanya dinikahi di KUA saja, asalkan sah.

Namun, sang laki-laki bingung dan masih belum percaya diri. Hal itu jelas membuat Muti malu, seakan-akan dirinya baru saja ditolak oleh seorang laki-laki. Seringkali dirinya membuka ponsel untuk mengecek apakah ada pesan dari dia yang masuk.Karena tidak tahan menunggu jawaban, Muti kembali mengiriminya sebuah pesanMas, gimana nih, aku ngajak kamu nikah, serius lho Pesan itu baru dibalasnya setelah tiga jam kemudian, “Aku masih bingung dan belum percaya secepat itu Lagian mas juga belum tau apa-apa tentang kamu Ti Dengan perasaan kecewa, Muti kembali membalasnya, “Ya udah, ngga usah dibahas lagi Terus menyerah gitu? wah ok deh.

Siapa yang nyerah, kalau belum tau ya kenalan kita Yaudah kenalan dulu aja, lagian baru ketemu satu kali. Temenan aja dulu, siapa tau demenan. Mas itu orangnya gak mudah jatuh hati. Tapi sekalinya udah cinta, ya bakal susah berpindah hati Muti sangat tidak menyukai balasan tersebut, “Hmmm berlebihan Ok deh. Emang begitu. Kalau dipikir pun juga begitu Hmm, jangan berlarut-larut mas, karena nggak semuanya sama Ya ya deh Ok Muti semakin malas menjawab. Ia berniat untuk tidak lagi menghubungi dia lagi. Tapi, laki-laki itu malah justru semakin sering menghubungi Muti, bahkan lewat telfon suara. Hal itu jelas membuat Muti semakin penasaran dan membuat Muti kembali membahasnya.

Hari selanjutnya, Muti bertanya tentang hal yang sama. Itu pun karena si laki-laki terus saja menggodanya Tii, aku butuh istri lho. Sepi begini Lho, kemarin aku ajak nikah aja nggak mau” Yaudah, sekarang kamu atur aja apa persyaratannya, nanti disini mas siapin Beneran? Muti sempat bertanya-tanya apakah ini memang beneran atau hanya bercanda. Setelah ditanyakan lagi, laki-laki itu memang benar akan menikahi Muti. Muti segera mengutarakannya kepada orang tua dan bertemulah kedua keluarga tersebut. Hari pernikahan ditetapkan tidak jauh dari hari pertemuan itu.